<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-170298939993150437</id><updated>2011-11-21T18:39:09.159-08:00</updated><category term='Kajian Pembelajaran'/><title type='text'>charedox</title><subtitle type='html'>so many information so little time</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://charedox.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170298939993150437/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://charedox.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>grp_com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10418829434993741308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_dndrsqzIJns/SMwD34_5mFI/AAAAAAAAAAk/Df1bJOcvXlc/S220/photo_1.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>2</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-170298939993150437.post-9170844996514091979</id><published>2010-05-14T18:27:00.000-07:00</published><updated>2010-05-14T18:30:26.204-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kajian Pembelajaran'/><title type='text'>Kajian Pembelajaran Tesselasi</title><content type='html'>KAJIAN PEMBELAJARAN ”TESSELLATION COMBINATIONS”&lt;br /&gt; (Mary Lou Nevin, ”Tesselation Combinations” Level 7- 8 , Arithmetic Teacher, Januari 1992)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikaji Oleh : Darmawan/90109001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran, dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai  proses, cara, perbuatan menjadikan mahluk hidup belajar. Sedangkan belajar diartikan sebagai memperoleh kepandaian atau ilmu. Pengertian kedua belajar diartikan perubahan tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Dengan mengacu pada pengertian tersebut maka pembelajaran dapat diartikan proses memberikan pengalaman  pada seseorang agar terjadi perubahan tingkah laku atau tanggapan.&lt;br /&gt;Pembelajaran matematika sekolah, diharapkan dapat membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif. Selain itu dimaksudkan pula untuk mengembangkan kemampuan menggunakan matematika dalam pemecahan masalah dan mengomunikasikan ide atau gagasan dengan menggunakan simbol, tabel, diagram, dan media lain.&lt;br /&gt;Pendekatan pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran matematika. Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika.&lt;br /&gt;Paparan  ini akan membahas  kajian pembelajaran “Tessellation Combinations” pada Level 7-8  yang dibuat oleh Mary Lou Nevin, Arithmetic Teacher, Januari 1992. Bagaimana pembelajaran “tessellation” dan kombinasi-kombinasinya diberikan bentuknya saat pertemuannya dengan siswa, bagaimana teselasi dibelajarkan.  &lt;br /&gt;Kajian ini akan membahas proses pembelajaran matematika yang diselenggarakan. Kajian ini akan memandang pembelajaran tersebut dari  standar proses dalam pembelajaran. Selanjutnya akan mengkaji content matematika dari pembelajaran. Jawaban terhadap pertanyaan ini akan menjelaskan standar isi dari pembelajaran. &lt;br /&gt;Kajian ini diharapkan mampu memberikan contoh bagaimana suatu topik dalam matematika dibelajarkan.  Bagaimana pembelajaran ideal  harus diselenggarakan untuk mencapai tujuan pembelajaran matematika sekolah. Bagaimana pembelajaran matematika dibuat lebih bermakna dan dapat memtotivasi siswa.  Contoh kajian ini diharapkan  akan meninggalkan  kebiasaan lama mengajar matematika hanya merupakan tranfer ilmu dan keterampilan matematika semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajian Pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Tujuan Pembelajaran :&lt;br /&gt;1) Siswa dapat menggunakan bentuk geometri untuk menemukan  kombinasi yang merupakan teselasi. &lt;br /&gt;2) Siswa  dapat menemukan gabungan dari gambar-gambar yang tepat  mengelilingi sebuah titik sudut tanpa tumpang tindih  atau celah kosong.&lt;br /&gt;B. Bahan :&lt;br /&gt;1) Lembar pola bentuk-bentuk  geometri  : segi tiga sama sisi, persegi, empat persegi panjang, belah ketupat, segi-5 beraturan, segi-6 beraturan, segi-8 beraturan, trapesium, segi-12 beraturan, segi-10 beraturan untuk setiap siswa (terlampir).&lt;br /&gt;2) Lembar Teselasi 1 dan Teselasi 2 (terlampir)  untuk setiap siswa, chart  untuk di temple di papan tulis, dan transparansi dari teselasi 1 dan teselasi 2.&lt;br /&gt;3) Tabel pengamatan dan pelaporan  kombinasi teselasi dan kombinasi geometri (terlampir).&lt;br /&gt;C. Istilah :&lt;br /&gt;Pengertian-pengertian dari bentuk geometri segi banyak – segitiga, persegi, segi-5 beraturan, segi-6 beraturan, segi-7 berturan, segi-8 beraturan, trapesium,  jajaran genjang, empat persegi panjang, - dan teselasi, membalik (flip), rotasi.&lt;br /&gt;D. Petunjuk :&lt;br /&gt;1) Didiskusikan pengertian bentuk-bentuk geometri segi banyak, besar  masing-masing sudutnya.dan besar jumlah sudut dalam suatu segi banyak. &lt;br /&gt;Diharapkan dari diskusi ini siswa dapat mempersiapkan pemahaman mereka terhadap substansi matematika  yang akan dibelajarkan. Dalam upaya mendapatkan pemahaman, siswa akan mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan awal yang telah dimilikinya kemudian membangun pengertian baru.&lt;br /&gt;Kesulitan siswa dalam pembelajaran sering disebabkan karena materi prasyarat yang tidak mereka pahami. Meskipun materi prasyarat tersebut telah dipelajari pada tingkat atau pembelajaran  sebelumnya, banyak siswa yang mudah melupakannya.  Pembahasan ulang untuk mengingatkan kembali  akan menghemat waktu yang dibutuhkan untuk pembelajaran dibanding jika kesulitan itu muncul ketika proses  pembelajaran berlangsung. Menghemat waktu dengan pemahaman  bahwa semakin minimal mereka mengalami kesulitan akan semakin sedikit waktu yang mereka butuhkan dalam proses pembelajarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Didiskusikan teselasi dari   bentuk-bentuk geometris dalam kehidupan. &lt;br /&gt;Agar pembelajaran dirasakan berguna, bermanfaat dan menjadikan pembelajaran lebih bermakna adalah penting untuk menunjukkan keterkaitan dari substansi matematika yang sedang dibahas dengan kegunaan dan masalah yang mereka jumpai dalam keseharian mereka. Pada pembelajaran teselasi, guru dapat menampilkan gambar sarang lebah, pola mosaik dan bentuk-bentuk lain yang dapat memberikan motivasi dan keingintahuan mereka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gambar 1 . Sarang lebah  yang terbentuk dari segi-6 beraturan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gambar 2. Mosaik dari sebuah karya seni&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gambar 3.  Mosaik sebagai dekorasi arsitektur dari sebuah mesjid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Siswa diberi lembar pola bentuk geometri  pada lampiran 1, untuk dipotong-potong. &lt;br /&gt;Didiskusikan beragam gambar geometris. Siswa membuat daftar dari nama-nama bentuk geometri pada kolom 1 dari bentuk geometri dalam pada lampiran 3.  Siswa diharuskan untuk mengisi kolom 2 dan kolom 3 untuk setiap gambar.&lt;br /&gt;Kegiatan ini akan memberikan pengalaman belajar matematika yang menyenangkan. Siswa belajar sambil bekerja, ”learning by doing” melaksanakan kegiatan dan proses matematik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Siswa diberi six-inch by six-inch mat dan diberitahukan cara menggunakan sebuah bentuk geometri untuk mernutup bingkai. &lt;br /&gt;Tidak diperbolehkan ada celah kosong dan tumpang tindih; gambar boleh diperluas melawati sisi. Sebelum siswa mulai menempatkan bentuk geometri pada mat, mereka diharuskan mengisi kolom 4 – Buatlah prediksi  apakah bentuk gambar merupakan teselasi. Kemudian mencatat perkiraan mereka pada tabel. Siswa diharuskan mencoba setiap bentuk geometri dan menguji perkiraan mereka. Siswa mensahkan perkiraan mereka dengan mengisi kolom 5.&lt;br /&gt;Mempersiapkan siswa untuk berperan sebagai pemecah masalah yang bisa bekerja sama dengan pihak lain, menghadapkan siswa pada situasi yang mendorong untuk mampu menemukan masalah dan meneliti hakekat permasalahan sambil mengajukan dugaan dan rencana penyelesaian. Dengan menggunakan intelegensi matematik dan kemampuan penalaran, siswa membuat hipotesis dari masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Guru mengajukan diskusi dengan menggunakan pertanyaan berikut : &lt;br /&gt;a. Mengapa sebuah bentuk geometri merupakan teselasi dan bentuk geometri lain bukan? &lt;br /&gt;b. Dengan mengetahui suatu bentuk geometri dapat mengisi mat, dapatkah anda memperkirakan bentuk geometri lain yang merupakan teselasi. Apakah kesimpulan pengisian mat  secara umum?  Siswa memberi tanda sebuah sudut, mengukur besar derajatnya, dan mencatat hasil pengukuran tersebut pada kolom 6. Selanjutnya mengukur  semua  sudut yang lain yang bertemu pada titik sudut dan mencatatnya pada kolom 6. Terakhir mereka harus menjumlahkan semua sudut yang titik sudutnya pada satu titik, dan mengisikannya pada kolom 7. Dalam diskusi dari jumlah sudut, bantulah siswa menyimpulkan bahwa jumlah sudut yang diukur mengelilingi vertex harus 360o.&lt;br /&gt;c. Setelah siswa menemukan teselasi dengan sebuaah bentuk gemometri, mereka harus memperkirakan kombinasi bentuk geometri yang mana dapat menutup mat. Buat daftar perkiraan pada papan tulis, dan mendiskusikan mengapa mereka bepikir bahwa setiap kombinasi akan merupakan teselasi.&lt;br /&gt;d. Siswa harus menguji perkiraan mereka dari kombinasi bentuk geometrinya merupakan teselasi. Dalam menindaklanjuti diskusi, berilah penekanan bahwa jumlah sudut dalam teselasi harus 360o.&lt;br /&gt;Pada kegiatan ini siswa melakukan inkuiri dan investigasi (inquiry and investigation) yang mencakup kegiatan mengeksplorasi dan mendistribusikan informasi.  Selanjutnya siswa melakukan performansi (performance) yaitu menyajikan temuan. Berikutnya siswa melakukan tanya-jawab (debriefing) yaitu menguji keakuratan dari solusi dan melakukan refleksi terhadap proses pemecahan masalah.&lt;br /&gt;6) Bagikan  teselasi 1 dan 2 pada lampiran 2, dan gunakan  tranparansi untuk menampilkan dari bentuk tersebut agar lebih menarik  perhatian siswa. &lt;br /&gt;a. Siswa menentukan sebuah titik A. Siswa melakukan pengukuran dengan busur derajat  untuk mengukur setiap sudut yang mengelilingi sudut A. Penjumlahan sudut-sudut tersebut harus berjumlah 360o.  Setelah selesai mengukur besar sudut, arahkan perhatian siswa pada bentuk-bentuk geometri yang mengelilingi titik A. Dengan menggunakan tinta warna pada projector, buatlah bulatan yang melingkari bentuk-bentuk geomeri yang mengelilingi titik A, tanyakan jumlah sisi-sisi dari  bentuk geometri yang mengelilingi titik A tersebut, dan catat jumlah itu di bawah kolom teselasi. Lanjutkan sampai semua gambar geometri dapat diidentifikasi. Diskusikan jumlah sisi-sisi dari gambar yang membentuk pola mengitari A. Kombinasi 4 – 3 – 3 – 4 – 3 , sebagai contoh, menunjukkan bahwa  ada dua segi empat dan tiga segi tiga membentuk teselasi. Buat titik yang lain titik B, dan siswa menentukan bentuk geometri mengelilingi titik tersebut.&lt;br /&gt;b. Buatlah siswa berpasang-pasangan, salah satu dari pasangan siswa dapat menentukan sebuah vertex pada teselasi 1. Siswa yang lain harus menetapkan bentuk geometri yang merupakan teselasi mengelilingi titik tersebut. Setelah 20 menit aktivitas mereka, selanjutnya  suruh  seorang siswa untuk mengerjakannnya pada tranparansi. Siswa yang lain harus menyatakan bentuk geometris untuk titik tersebut.&lt;br /&gt;c. Berikan siswa teselasi 2 dan arahkan perhatian mereka untuk tabel kombinasi geometri. Siswa harus mempelajari kombinasi bilangan yang diberikan dan mendaftarkan bentuk geometri  yang mereka perkirakan membentuk pola. Kemudian mereka menguji perkiraan mereka dengan teselasi sebenarnya dan mendaftarkan bahwa teselasi tersebut berkawanan  dengan kombinasi. Selanjutnya siswa  harus merefleksikan mengapa perkiraan mereka ada yang benar ada yang tidak.&lt;br /&gt;Pada kegiatan ini siswa melakukan inkuiri dan investigasi (inquiry and investigation) yang mencakup kegiatan mengeksplorasi dan mendistribusikan informasi.  Selanjutnya siswa melakukan performansi (performance) yaitu menyajikan temuan. Berikutnya siswa melakukan tanya-jawab (debriefing) yaitu menguji keakuratan dari solusi dan melakukan refleksi terhadap proses pemecahan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) Buat kelompok dari empat atau lima siswa  untuk masalah berikut. &lt;br /&gt;Siswa diizinkan  untuk mendesain ulang lantai kelasnya dengan menggunakan prinsip teselasi. Pada prinsipnya siswa  boleh menggunakan berbagai  bentuk geometris dengan berbagai ukuran  untuk proyek ini. Proyek ini akan sangat menyenangkan. Setiap grup tidak hanya mendesain lantai tetapi juga menentukan warna keramik yang akan digunakan. Buatlah sebuah desain yang dijadikan dasar.  Tanpa mereka ketahui suruhlah siswa pada tingkat kelas yang berbeda untuk menjadi juri dalam menentukan siapa yang terbaik dalam mendesain lantai kelasnya.&lt;br /&gt;Pada kegiatan ini siswa diberi kesempatan untuk menerapkan pengetahuan yang telah mereka miliki dalam kehidupan kelasnya.  Pada kegiatan ini nampak  indikator dari pembelajaran degan pemecahan masalah yakni  menghasilkan produk atau karya kemudian memamerkannya. Karya  tersebut berupa hasil teselasi dari lantai kelasnya,  yang mereka tampilkan sebagai hasil kreasi dari apa yang telah mereka pelajari. Indikator berikutnya adalah  kerja sama, artinya pada proses belajar-mengajar siswa bekerja sama dalam kelompok kecil. Bekerjasama memberikan peluang pada siswa untuk berbagi ide dan berdialog, mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berpikir.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/170298939993150437-9170844996514091979?l=charedox.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://charedox.blogspot.com/feeds/9170844996514091979/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://charedox.blogspot.com/2010/05/kajian-pembelajaran-tesselasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170298939993150437/posts/default/9170844996514091979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170298939993150437/posts/default/9170844996514091979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://charedox.blogspot.com/2010/05/kajian-pembelajaran-tesselasi.html' title='Kajian Pembelajaran Tesselasi'/><author><name>grp_com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10418829434993741308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_dndrsqzIJns/SMwD34_5mFI/AAAAAAAAAAk/Df1bJOcvXlc/S220/photo_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-170298939993150437.post-7406508704239031236</id><published>2010-05-14T18:24:00.001-07:00</published><updated>2010-05-14T18:24:38.233-07:00</updated><title type='text'>Kompetensi Guru</title><content type='html'>PENGERTIAN KOMPETENSI,&lt;br /&gt;ILUSTRASI DAN CONTOH KAITANNYA DENGAN KOMPETENSI GURU&lt;br /&gt;Oleh :  Darmawan, S.Pd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;Istilah kompetensi menjadi istilah yang popular dalam bidang pendidikan.  Kita sudah terbiasa dengan istilah kurikulum berbasis kompetensi, standar kompetensi, kompetensi dasar, kompetensi guru dan dosen dan istilah lain yang menggunakan kata  kompetensi.  Seperti yang diungkapkan Purnadi (2009:1), kompetensi dipercaya sebagai faktor yang memegang faktor  kunci  dalam keberhasilan seseorang dalam pekerjaannya. &lt;br /&gt;Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, menyatakan bahwa salah satu faktor kemampuan yang harus dimilki guru untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional adalah guru harus memilki kompetensi. Selanjutnya, Mendiknas RI  melalui Permen Nomor 16 Tahun 2007 menetapkan Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Identifikasi kompetensi guru yang tepat dianggap memiliki nilai prediksi yang valid untuk  keberhasilan guru dalam pekerjaannya&lt;br /&gt;”Apa arti sebenarnya kompetensi dan ilustrasi serta contoh-contoh kaitannya dengan kompetensi guru?”, menjadi pertanyaan yang sangat penting untuk dijawab dalam memahami pengertian  kompetensi yang akan memberikan dasar dalam upaya menjadi guru yang berhasil. &lt;br /&gt;Berikut ini akan dibahas dua model pengertian kompetensi menurut McClelland dan pengertian menurut DeSeCo beserta ilustrasinya dengan contoh-contoh kaitannya dengan kompetensi guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian Kompetensi&lt;br /&gt;Seperti yang diungkapkan Purnadi (2009:1), konsep kompetensi modern mulai diperkenalkan pada awal tahun 70-an, David McClelland, seorang profesor dari Harvard University, melakukan penelitian yang ekstensif untuk menganalisa apa yang menyebabkan orang sukses dalam pekerjaannya, dengan membandingkan antara kelompok orang-orang yang berprestasi sangat baik, dengan kelompok orang-orang yang menunjukkan prestasi rata-rata. Fokus perhatiannya adalah mengukur karakteristik-karakteristik dari seseorang yang mempunyai dampak paling langsung terhadap prestasinya, bukan sekedar pengukuran umum terhadap kemampuan kognitif seseorang. Karakteristik itulah yang ia sebut sebagai ”competency”, karena sangat terkait dengan "competence".  Kedua kata ini diterjemahkan sebagai ”kompetensi” dalam bahasa Indonesia. &lt;br /&gt;Selanjutnya seperti yang dikutip Purnadi (2009:1), McClelland mendefinisikan kompetensi sebagai : karakteristik yang mendasar yang dimiliki seseorang yang berpengaruh langsung terhadap, atau dapat memprediksi, kinerja yang sangat baik. &lt;br /&gt;Spencer dan Spencer (2003:9), mendefinisikan kompetensi sebagai: karateristik yang  mendasar yang dimiliki seseorang yang memiliki hubungan kausal dengan kriteria yang dijadikan acuan, efektif, atau kinerja terbaik di tempat kerja atau situasi tertentu.&lt;br /&gt; Karateristik mendasar artinya bahwa  kompetensi harus bersifat mendasar dan bagian yang melekat dari kepribadian seseorang serta memperkirakan sikap orang  tersebut ketika berhadapan dengan suatu keadaan atau tuntutan pekerjaan yang sangat beragam.&lt;br /&gt; Hubungan kausal berarti bahwa kompetensi menyebabkan atau memprediksi  perilaku atau kinerja seseorang. &lt;br /&gt; Kriteria yang dijadikan acuan berarti bahwa kompetensi secara nyata dapat menentukan siapa  yang bekerja dengan baik atau buruk berdasar  kriteria standar yang dijadikan acuan.&lt;br /&gt;Selanjutnya Spencer dan Spencer (2003: 9-10) menjelaskan ada lima tipe karakteristik  dasar kompetensi  yaitu :  motif,  pembawaan,  konsep diri, pengetahuan dan keterampilan. Berikut ini dijelaskan lima tipe karakteristik dasar tersebut, sebagai berikut : &lt;br /&gt;1. Motif. Pemikiran atau niat dasar yang konstan yang mendorong seseorang untuk bertindak. Motif bekerja secara intrinsik atau mulai dengan sendirinya (self starting). Motif akan mengarahkan dan menyeleksi sikap menjadi tindakan dalam jangka panjang sehingga dapat memprediksi apa yang akan dilakukan seseorang tanpa pengawasan yang ketat. Contoh :  seorang guru yang mempunyai motivasi untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan,  akan mengadakan refleksi terhadap kinerja sendiri secara terus menerus, memanfaatkan refleksi untuk lebih meningkatkan keprofesionalan, mengikuti kemajuan zaman dengan belajar dari berbagai sumber, semua dilakukan tanpa harus ada pengawasan yang ketat, karena muncul atas dorongan sendirinya.&lt;br /&gt;2. Pembawaan. Karateristik fisik yang merespon secara konsisten berbagai situasi atau informasi.  Contoh : berkomunikasi secara efektif, empatik dan santun dengan peserta didik, orang tua dan masyarakat  harus menjadi pembawaan seorang guru dalam berbagai situasi. Kontrol emosi diri merupakan respon yang lebih kompleks ketika harus berhadapan dengan kenakalan siswa.  &lt;br /&gt;3. Konsep Diri. Tingkah laku, nilai atau citra diri. Contoh : guru harus mampu bersikap sesuai dengan norma agama yang dianut, hukum, norma sosial yang berlaku di masyarakat, kebudayaan nasional Indonesia yang beragam, dan menjunjung kode etik profesi guru.  Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, teladan, mantap, percaya diri, stabil, dewasa, arif, berwibawa, etos kerja yang tinggi, rasa bangga menjadi guru,  harus menjadi karakteristik fisik yang menjadikan guru sebagai sosok yang patut ”digugu” dan ”ditiru”.&lt;br /&gt;4. Pengetahuan. Informasi khusus yang dimiliki seseorang. Guru harus menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.  Contoh : guru matematika  harus menguasai pengetahuan konseptual dan prosedural serta keterkaitan keduanya dalam konteks materi aritmetika, aljabar, geometri, trigonometri, pengukuran statistika, dan logika matematika. &lt;br /&gt;5. Keterampilan. Kemampuan untuk melakukan tugas secara fisik atau mental. Guru harus mampu menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik, mampu merancang, mengembangkan, melaksanakan, menggunakan media, dan mengevaluasi.&lt;br /&gt;Implikasi praktis dari kelima kompetensi tersebut terhadap peningkatan sumber daya manusia dijelaskan Spencer dan Spencer (1993:11) dalam model gunung es dan model inti, seperti pada gambar  berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterampilan dan pengetahuan cenderung lebih nampak pada pemukaan cirri-ciri seseorang, sedangkan konsep diri, pembawaan, dan motif lebih tersembunyi dan lebih mendalam, serta merupakan pusat dari kepribadian seseorang.&lt;br /&gt;Pada model inti dan permukaan, dijelaskan bahwa kompetensi permukaan yaitu pengetahuan dan keterampilan lebih mudah dikembangkan melalui pembelajaran. Latihan merupakan hal tepat untuk menjamin berkembangnya kemampuan ini.  Sebaliknya, kompetensi pembawaan dan motif yang merupakan kompetensi mendasar pada model gunung es lebih sulit dikembangkan dan dikenali, juga lebih sulit dinilai dan dilatihkan. Konsep diri yang mencerminkan sikap dan nilai masih dapat dilatihkan dengan pengalaman-pengalaman belajar yang positif, produktif dan proaktif, walaupun memerlukan waktu yang relatif lama.&lt;br /&gt;Motif, pembawaan dan konsep diri akan memprediksikan keahlian guru yang pada akhirnya akan memprediksikan performa guru dalam bekerja, seperti yang dijelaskan Spencer dan Spencer (1993:13) dalam diagram alur hubungan kausal, pada gambar berikut ini :&lt;br /&gt;Niat     Tindakan   Hasil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompetensi pengetahuan dan keterampilan selalu meliputi kompetensi motif, karakter dasar atau konsep diri, yang memberikan dorongan  atau "push" untuk pengetahuan atau keterampilan yang akan digunakan. Perilaku tanpa niat tidak dapat diartikan sebagai suatu kompetensi. Guru yang berjalan berkeliling kelas hanya karena terlalu lama duduk di kursi bukan merupakan kompetensi, berbeda kalau disertai dengan motif untuk memberikan pelayanan individu kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal.&lt;br /&gt;Selanjutnya Spencer dan Spencer (1993:13) menegaskan karakteristik bukan kompetensi  kecuali memprediksi sesuatu yang dapat membuat perbedaan dalam kinerja dan dapat  digunakan untuk mengevaluasi seseorang. Spencer dan Spencer membedakan kinerja ini ke dalam dua kelompok Superior Performance (kinerja unggul) dan Effektive Performance (kinerja rata-rata).&lt;br /&gt;Model kompetensi  kedua adalah konsep kompetensi yang dikembangkan OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) melalui sebuah proyek yang dinamai Definition and Selection of Competencies (DeSeCo) dengan tujuan untuk memberikan landasan teoritis dan konseptual tentang kompetensi.&lt;br /&gt;Pengertian kompetensi menurut DeSeCo seperti yang didefinisikan  Rychen dan Salganik (2003:43-46), adalah kemampuan untuk berhasil  menghadapi tuntutan yang kompleks dalam konteks khusus melalui pengerahan persyaratan psikososial (meliputi aspek kognitif dan non-kognitif). Fokus utamanya  adalah  pada keberhasilan  pencapaian seseorang melalui  tindakan, pilihan, atau berperilaku, yang merujuk tuntutan.  Tindakan yang merujuk  tuntutan ini  melibatkan struktur mental internal kemampuan,  watak atau sumber yang melekat dalam individu. &lt;br /&gt;Terjadinya sebuah kompetensi tidak hanya kejadian dari satu unsur komponen saja tetapi juga mampu mengerahkan sumber-sumber (meliputi kognitif, motivasi, etika, kemamuan sendiri dan komponen sosial)  yang dibutuhkan dengan tepat dan “mengorkestrainya”, pada waktu yang tepat dalam sebuah situasi yang kompleks.&lt;br /&gt;Secara ringkas, model mendasar dari kompetensi seperti yang diadopsi DeSeCo, adalah  utuh dan dinamis dalam menghadapi, tuntutan yang kompleks, dengan menggabungkan prasyarat psikososial  dan konteks dalam sebuah sistem yang kompleks  yang menghasilkan  kinerja terbaik   atau tindakan seefektif mungkin. &lt;br /&gt;Selanjutnya, Rychen dan Salganik (2003:47), menjelaskan bahwa perlu adanya transfer dan adapatasi dari kompetensi. Setiap situasi kita hadapi dalam sebuah cara yang berbeda dan baru. Perbedaan antara kompetensi yang ada dengan kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan tuntutan baru, mengharuskan adanya transfer dan adaptasi dari kompetensi yang sudah dimiliki sebelumnya (pengalaman).&lt;br /&gt;Kompetensi dapat diukur dan diamati. Kompetensi diwujudkan dalam bentuk tindakan, perilaku atau pilihan-pilihan yang dapat diukur dan diamati dalam suatu situasi atau konteks khusus. Tindakan-tindakan, perilaku-perilaku, atau pilihan-pilihan ini dapat diamati dan diukur, tetapi kompetensi yang mendasari penampilan, seperti halnya motif, pembawaan, konsep diri hanya dapat disimpulkan&lt;br /&gt;Kompetensi diasumsikan dapat dipelajari dan dapat diajarkan. Keberhasilan menghadapi tuntutan yang kompleks  yang ditampilkan melalui tindakan, perilaku dan pilihan-pilihan dapat dipersiapkan melalui proses pembelajaran dan pelatihan.  &lt;br /&gt;Itulah dua model pengertian kompetensi dari McClelland dan DeSeCo. Dengan memahami pengertian kompetensi secara benar dan utuh Standar Kompetensi Guru (Permen Nomor 16 Tahun 2007) dapat dimaknai dan dimiliki serta diwujudkan melalui tindakan-tindakan  dalam melaksanakan tugas sebagai guru yang sukses dengan kinerja unggul.&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan Mentri Pendidikan Nasional No. 16 Tahun 2007, Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.&lt;br /&gt;Purnadi Pungki, M.W., 2009, Kompetensi-Faktor Kunci Keberhasilan, http://vibizconsulting.com/column/index/management/1553/hr, tanggal akses : 15 September 2009.&lt;br /&gt;Rastodio, 2009,  Kompetensi Guru, http://rasto.wordpress.com/2008/01/31/kompetensi-guru/, tanggal akses : 15 September 2009.&lt;br /&gt;Richen, D.S. dan Salganik, L.H., 2003, Key Competencies for a Succesful Life and Well-Functioning Society, Göttingen, Germany : Hogrefe &amp; Huber.&lt;br /&gt;Spencer, L.M. and Spencer, S.M., 1993, Competence at Work : Models for Superior Performance, John Wiley &amp; Sons. Inc.&lt;br /&gt;Undang-Undang Republik Indonesia, No. 14 Tahun 2005 , Guru dan Dosen&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/170298939993150437-7406508704239031236?l=charedox.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://charedox.blogspot.com/feeds/7406508704239031236/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://charedox.blogspot.com/2010/05/kompetensi-guru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170298939993150437/posts/default/7406508704239031236'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170298939993150437/posts/default/7406508704239031236'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://charedox.blogspot.com/2010/05/kompetensi-guru.html' title='Kompetensi Guru'/><author><name>grp_com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10418829434993741308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_dndrsqzIJns/SMwD34_5mFI/AAAAAAAAAAk/Df1bJOcvXlc/S220/photo_1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
